Selasa, 26 Januari 2016

Kawan Akrab Hendak Mencaleg 2014

Senin, 01 April 2013, pkl.13.00-an WITA, saya diajak minum kopi plus makan siang oleh dua kawan akrab di sebelah tempat kerja saya. Saya menyebut “kawan akrab” karena selama di Balikpapan, saya cukup dekat dengan mereka dalam lingkup sosial-profesional. Seorang di antaranya malah sudah seperti saudara sendiri. 

Acara minum kopi plus makan siang tersebut diawali dengan “apa kabar”, “kegiatan apa sekarang”, dan “kesenian-kebudayaan”. Sambil mereka makan nasi rawon, dan saya cuma minum es kopi hitam (saya sudah kenyang makan roti), pembicaraan begitu mengasyik-masyukkan. Maklumlah, lebih dua bulan saya tidak bertemu dan berngobrol dengan mereka. Masing-masing sibuk menjelajahi jagat raya. 

Setelah lepas prolog selama lebih setengah jam itu, ternyata ada satu hal yang hendak disampaikan pada saya, dan hal itu begitu krusial-fundamental bagi saya selama saya menjadi seorang kader GOLPUT sejati. Keduanya dilamar oleh sebuah partai untuk menjadi calon legislatif (caleg). Alamak, semangkuk buah simalakama dihidangkan untuk santapan siang! 

Seseorang, bahkan saudara kandung pun, bebas-merdeka memilih dan menentukan jalan hidup yang ditempuhnya. Sedangkan saya sendiri tidak sudi mengikuti pilihan dan ketentuan mereka, semisal keluarga saya yang memilih untuk berpolitik praktis. Oleh karenanya saya sama sekali tidak berhak untuk memilihkan apalagi menentukan pilihan siapa pun mereka. 

Apalagi ini, keduanya bukan saudara kandung atau anak kandung saya. Mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan secara mutlak dalam memilih-menentukan jalan hidup masing-masing. Ketika keduanya menyampaikan ‘aspirasi’ tadi, saya hanya bisa tertegun. Tertegun karena saya tidak bisa berbuat, minimal ‘mengarahkan’ pada itikad serta logika saya yang tengah ‘membelok’dari alur politik praktis sebagian orang Indonesia. 

Namun kali ini bukan lantaran mereka melamar. Sebaliknya, mereka dilamar untuk menjadi caleg oleh suatu partai. Waduh! Dalam dunia lamaran, biasanya ada ‘mahar’ atau ‘mas kawin’. Untuk bekerja di sebuah tempat saja ada pelamar yang harus ‘membayar’ terlebih dulu. Nah, kalau yang ‘dilamar’ oleh suatu partai? 

Saya tidak mengerti, apakah juga berlaku ‘mahar’ dalam dunia politik praktis di Indonesia. Barangkali semacam kontrak politik. Yang saya ketahui, politik Indonesia terkenal dengan istilah ‘politik dagang sapi’ (sempat diplesetkan, “politik daging sapi”, pasca kasus korupsi impor sapi bin Luthfi). Sementara itu sistem demokrasi Indonesia menganut “demokrasi berbiaya tinggi”, termasuk “biaya biaya’an” (biaya jalan-jalan sekaput ancup). 

Lagian, selama lebih sekian tahun ini saya secara terus terang menyatakan diri sebagai kader GOLPUT sejati, alias anti politik praktis made in Indonesia. Pasalnya, saya sama sekali tidak pernah melihat bukti konkrit secara lokal-nasional mengenai produksi positif dari sistem demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998. 

Parahnya dampak demokrasi Indonesia pasca reformasi 1998, dimana orang-orangnya seenak perut menunggangi istilah “partai politik adalah pilar demokrasi”, ketahuan bahwa bandot-bandot dan dedengkot itu rakus dan hanya mementingkan diri sekaligus partainya. Lihat saja fenomena wakil rakyat dan pentolan partai yang tertangkap korupsi! 

Para pengkhianat rakyat itu silakan saja mengatakan bahwa partai adalah pilar demokrasi. Mentang-mentang begitu lantas boleh seenaknya korupsi dan mengkhianati rakyat? Saya dengan lantang menyebutkan “PILAT demokrasi”! Dengan menyebut “PILAT”, saya sudah tidak heran dengan konspirasi JALAT para pengkhianat itu. 

PILAT dan JALAT, artinya bahwa demokrasi dan politik Indonesia mutakhir adalah jorok dan busuk. Demikian pula kata “partai”, yang menurut saya, berakronim dari “Partikel Tai”. Intinya: menjijikkan! Maka, dengan penuh kesadaran, saya berketetapan tekad menjadi seorang kader GOLPUT sejati secara murni dan konsekuen. 

Nah, siang ini justru dua kawan akrab saya menyampaikan ‘aspirasi’ sembari menyantap nasi rawon. Itulah yang saya bilang tadi, “Semangkuk buah simalakama dihidangkan untuk santapan siang!” Bagaimana ini? Saya dengarkan saja paparan argumentasi mereka mengenai penerimaan atas ‘lamaran’ itu. 

“Untuk mengakomodir dan merealisasikan aspirasi, kita harus masuk sistem yang sedang berlangsung,” ujar mereka. Tidak lupa mereka mengadopsi pernyataan-pernyataan seorang tokoh, dan fakta-fakta tokoh lainnya. Contohnya, Jokowi dan Ahok. 

“Kami berdua tidak menjiplak Jokowi-Ahok, melainkan mengambil semangatnya,” sela seseorang. “Semangat saja karena saya sendiri kerepotan harus blusukan seperti Jokowi.” 

Ah, kedua kawan akrab ini memang mengenal tokoh kesukaan saya (kesukaan untuk saat ini). Tapi saya maklum kalau kedua kawan saya ini tidak bisa blusukan karena proporsi tubuh keduanya (kedua kawan akrab saya ini) sudah jauh dari kategori normal. Makanya, mereka hanya berani bilang “mengambil semangat Jokowi”, bukan keringat, melawat rakyat sampai masuk gorong-gorong kota. 

“Kami juga mempunyai program-program yang nantinya bisa populis, semisal setiap wilayah RT harus ada satu ruang umum (public space) yang terbuka dan hijau. Kami berharap Gus Noy bisa membantu masyarakat itu, semisal dengan membuat mural di ruang-ruang terbuka itu.” 

Saya terus mendengarkan sambil berpikir, “Mural itu substansinya apa, tahu, nggak, sih?” Kalau mural sekadar aksi melukis dinding atau corat-coret dinding, waduh… Apa bedanya dengan graffiti bahkan vandalisme? Tapi, baiklah, saya dengarkan saja terlebih dulu apa lagi yang hendak mereka sampaikan. 

“Gus Noy tahu, nggak, ada anggaran sekian ratus juta rupiah yang seharusnya dikembalikan kepada rakyat? Di mana kini anggaran itu berada?” Saya nyaris saja menjawab, “Saya tidak tahu. Jangan menuduh saya begitu dong! Kok seolah-olah saya ikut menikmati hak rakyat itu.” Hehehe… lucu banget sih, soal di mana anggaran itu sembunyi, jelas-jelas saya tidak mau tahu. 

Kok saya tidak mau tahu? Begini. Kalau sudah berurusan dengan duit, masalahnya justru sensitif banget. Duit itu lebih sensitif daripada perasaan segenap perempuan di dunia ini. Sebab, keliru sedikit, bisa bunuh-membunuh. Keluarga bisa saling membunuh, kawan melawan kawan, bahkan gara-gara duit Yesus pun harus mampus! Tuh, Yudas dibayar, terus duitnya untuk membeli ayam jantan yang kemudian berkokok tiga kali ketika Petrus menyangkal Yesus. 

Lha ini duit lagi, persis dengan istilah “politik dagang sapi”, yang tidak beda dengan kepentingan duit. Orang-orang politik begitu bernafsu untuk menjadi legislator, apa lagi urusannya kalau bukan “demi duit”? Kalau tidak ada duitnya alias sukarelawan nan gratisan, mana mau orang-orang itu. Bahkan belum lama ini, ada seorang wakil rakyat yang menuntut gaji pensiun dan seterusnya. Bah! Manusia tidak punya malu, masih juga menuntut! (Pak, biarpun mendapat gaji pensiun, kalau mati tetap masuk neraka karena Bapak menabung kebusukan selama hidup. Lho kok saya menetapkan semacam itu? Ayo taruhan kalau Bapak benar-benar masuk surga) 

Lalu saya bersabda (kata “bersabda” ini apakah hanya pantas dipakai untuk para nabi atau Tuhan?), “Sebenarnya saya keberatan jika Sampeyan berdua terlibat politik praktis dengan menjadi orang partai. Saat ini partai…” 

“Ya, ibarat perahu yang bocor sana-sini,” celetuk seseorang. “Tapi begini, Noy. Selama ini Noy, kan, tahu, kita hanya bisa berteriak di luar perahu itu. Mereka yang menguasai perahu, dan membuat sistem menjadi…” 

“Bukan itu,” sela saya. “Ibarat perahu, di ruang bawahnya berisi para perombak alias bajak laut.” Bagaimana tidak. Di atas perahu kelihatannya aman-nyaman-tentram saja tetapi di ruang bawahnya orang-orang kejam (keji-jahanam) begitu leluasa membuat perjamuan penuh pora. 

“Tapi kalau kita tidak masuk ke perahu, dan melakukan sesuatu yang baik, atau katakanlah, perubahan yang baik, bagaimana bisa mengubah sistem, Noy?” 

“Seorang Jokowi atau Ahok harus masuk ke sistem supaya benar-benar mewujudkan impian rakyat, Noy, terserah kendaraan atau perahu apa yang mereka pakai. Iya, nggak?” 

Ya, ya, ya… Jokowi dan Ahok memakai, tepatnya menumpang, kendaraan dua partai. Tapi jangan lupa, pengalaman kedua orang itu bukan diperoleh tadi pagi sewaktu bangun tidur. Track record, waduh, bahasa susah, eh rekam jejak mereka jelas selama bertahun-tahun. Rival-rival politik berusaha keras mencari celah, termasuk jejak korupsi, tetapi kerepotan sendiri dan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa Jokowi-Ahok menang dalam PILKADA DKI Jakarta 2012 silam. 

Akan tetapi, di antara sekian politikus bin tikus rakus tapi bau kakus itu, berapa gelintir sih yang benar-benar wangi, murni dan kensekuen berjuang untuk rakyat? Pasalnya, sistem kepartaian dalam demokrasi pasca reformasi 1998 ini bukan satu-dua orang baik yang masuk ke sebuah partai. Tetapi, mereka-mereka itu bisa atau jadi apa? Kalau tidak terbawa arus, ya cuma jadi batu alias pelengkap penderita tetapi bisa menikmati duit ini-itu juga. Kalau yang lain jadi mirip jago kepruk, lha mereka-mereka yang baik itu malah jago kerupuk alias melempem. 

“Kami juga tidak bisa menjamin bahwa usaha kami ini nantinya bisa benar-benar terwujud, Noy. Tapi, paling tidak, ini merupakan langkah lebih maju untuk lebih serius secara langsung dalam memberi kontribusi kebaikan bagi rakyat.” 

“Iya, Noy. Kalaupun bukan program-program besar, kecil saja semoga berguna. Anggaran untuk rakyat bisa benar-benar dikembalikan kepada rakyat.” 

Secara pribadi, saya masih memercayai integritas kedua kawan akrab saya ini. Saya tidak pernah mendengar desas-desus kasus uang apa pun dalam perjalanan usaha mereka. Kejujuran, dedikasi, dan semangat penuh keikhlasan selalu mereka perlihatkan. Usaha apa pun mereka seimbangkan antara realitas dan spiritualitas; mencari nafkah dan beramal/bersedekah. Hidup mereka tidak melulu demi duit nan berkembang biak sampai tidak habis dimakan seribu turunan. Malah saya tidak mampu melakukan seperti yang mereka mampu dan sudah lakukan selama ini. 

Akan tetapi, saya masih belum berani sepenuhnya mempercayai kapasitas kedua kawan akrab saya ini untuk bisa membuat semacam perubahan demi kebaikan rakyat karena keduanya tergolong minoritas dalam sistem politik yang “lah ancok lilot” (hancur-lebur) ini. Apalagi tadi, soal duit, atau anggaran proyek kerakyatan, yang mana soal itu selalu menjadi incaran dan bancakan para pengkhianat rakyat. 

Saya masih ngeri membayangkan, suatu saat kedua kawan akrab saya ini terpaksa terlibat dalam aksi pat-gulipat para pengkhianat itu diakibatkan oleh sistem dan budaya politik Indonesia ini sudah rusak karena para pengelolanya rusak akhlaknya. Orang-orang itu selalu menjual nama “rakyat” untuk memenuhi ambisi kekuasaan atau kerakusan mereka sendiri. Apalagi mereka beramai-ramai hendak menetapkan undang-undang anti penyadapan KPK karena, sebenarnya, mereka khawatir kalau kelak justru mereka sendiri atau kolega bahkan keluarga mereka yang ditangkap KPK. 

Ya, buaya dan ular sukar dijinakkan seperti anjing atau ikan lumba-lumba. Lengah sedikit, justru penjinaknya dimangsa buaya atau ular. Bukankah sudah terjadi penjinak binatang buas akhirnya dimangsa oleh binatang buas itu sendiri? 

Terus terang, sampai saya menulis ini, saya masih belum sembuh dari trauma politik Indonesia pasca reformasi 1998. Orang-orang yang waktu itu lantang mengganyang ORBA dan kroni-kroninya, kini terlihat aslinya siapa mereka. Mereka jauh lebih biadab. Laskar ular beludak itu pun sudah beranak-pinak. 

Tapi, kini, giliran kedua kawan akrab saya menyampaikan aspirasi untuk maju di PILEG 2014 nanti. Saya masih belum mampu memahami meski pilihan hidup mereka berada sepenuhnya di tangan mereka sendiri. Ah, bagaimana ini? 

“Perjalanan karier politik saya nanti bukan hanya sampai jadi wakil rakyat, Noy. Setelah itu saya mau maju jadi walikota. Yah, seperti Jokowi atau Ahok yang pernah menjadi walikota atau bupati.” 

Wuaduh! Walikota, Coy! Kalau sudah walikota, terus gubernur, lantas presiden, dan akhirnya apa? Ketika saya sedang menunggu tempe goreng matang, saya sudah ditawarkan, “Mau cumi-cumi lada putih, kepiting lada hitam, dendeng dinasaurus, dan apa lagi, Noy?” Artinya, bakal berkelanjutan nih perjalanannya? Saya malah bingung membayangkan semua ini. 

“Saya secara pribadi minta dukungan Gus Noy,” pesan terakhir dari salah seorangnya. Saat itu es kopi hitam saya pun sudah pada tetes terakhir. 

Pesan terakhir itu juga membingungkan saya. Pertama, saya memilih untuk tidak memilih, alias GOLPUT, dengan penuh kesadaran atas segala realitas porak-poranda perpolitikan Indonesia. Sebagai GOLPUT, saya tetap tidak sudi memilih atau mendukung siapa-siapa menjadi seorang wakil rakyat. 

Saya berpegang teguh pada faham Rousseauisme, “Dalam beberapa kasus, ketika masyarakat atau seseorang membiarkan dirinya diwakili, maka masyarakat atau seseorang itu sudah tidak bebas lagi atau secara ekstrim dikatakan masyarakat atau orang tersebut sudah tidak ada lagi.” 

Kedua, sebagai GOLPUTER yang sama sekali tidak merasa memiliki suara penting secara signifikan, saya bukan siapa-siapa dalam persoalan dukung-mendukung untuk calon politikus. Status sosial saya jelas, “bukan siapa-siapa”. Artinya, saya tidak memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) dalam kancah politik “dagang sapi” Indonesia. 

Ketiga, sebagai “bukan siapa-siapa”, otomatis saya sama sekali tidak memiliki “massa”, kecuali masa bodoh. Maksud saya, saya tidak memiliki pengikut atau komunitas yang sudi mematuhi sabda saya. Orang-orang sekitar saya memilih masa bodoh atas sabda-sabda saya yang memang dikenal serba sableng bin mbeling

Nah, mengapa “minta dukungan” saya? Bagi saya, permintaan kawan akrab saya ini tidak bisa terlingkup dalam nalar liar saya. Apakah dukungan itu berupa mural ya? Mosok, sih, cuma mural? Jelas, bahwa saya pun tidak tergolong dalam kaum muralis Indonesia. 

Saya tidak mengerti, dukungan macam apa yang bisa dan pantas saya berikan sebagai seorang kader GOLPUT sejati yang murni dan konsekuen ini. Saya sendiri sedang bekerja keras untuk mendukung perekonomian keluarga, dan masa depan keluarga saya kelak. Dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seminggu-minggu, sebulan-bulan, setahun-tahun hingga kelak saya tidak berangka tahun lagi, saya sedang berupaya sepenuh daya untuk mencukupinya. Dukungan nyata-fakta ini tidak bisa saya anggap remeh atau kapan-kapan sajalah. 

Sampai saya mengakhiri tulisan dan perenungan saya malam ini, saya masih belum mampu memahami “dukungan” apa yang bisa plus pantas saya berikan untuk kedua kawan akrab saya yang hendak nyaleg 2014 kelak. Mungkin beginilah dampak samping penolakan tawaran makan nasi rawon, atau efek segelas es kopi hitam. Entahlah. 

******* 
Balikpapan, 01 April 2013

KOMENTAR PEMBACA :

1. "Lagi dilema ya?haha Golput=EGP(Emang gue pikirin). Tapi nanti ga usah nuntut ama pemerintah... kan gak ikut pemilu...hehehe...*canda* Hidup itu penuh dgn pilihan, setiap pilihan punya tanggung jwb dan resiko masing2, pilihlah sesuai hati nurani dan beranilah untuk mengambil resikonya," tulis Sunrise Angel, 02 April 2013, 15:58:07 

2. "Tetaplah dijalur golput kawan , sampai matipun,......he he :D," tulis Rifani Indragiri, 02 April 2013, 14:03:30 

3. "biarkan saja, siapa tau nanti dimasa depan ada jokowi dan ahok non-blusukan dan non-upload video ke youtube golput bukan artinya tidak bisa berkontribusi, anda masih bisa memperbaiki keadaan disekitar RT anda... bisa untuk manajemen sampah atau membangun gedung serbaguna atau lapangan olahraga, dan hal-hal sederhana lainnya... yang dilupakan oleh para pemain politik adalah, bahwa kontribusi sederhana yang dilakukan semua orang dinegeri ini akan mengubah bangsa ini, dibanding kontribusi sangat amat luar biasa yang dilakukan hanya 1-2 orang saja... misalnya ketika anda buang sampah, anda bisa memikirkan "ah yang lain juga buang sampah sembarangan, gak usah sojk bersih lah" yang tindakan anda itu dilihat orang lain, dan memiliki pikiran yang sama, yang menyebar hingga 240 juta orang lainya atau anda bisa berpikir sebaliknya, dan mengalami rantai reaksi yang sama..," tulis Oswald Landredge, 02 April 2013, 14:09:53 

4. "Permenungan yg dalam, liar, dan jenaka," tulis Sutomo Paguci, 02 April 2013, 20:36:27 

5. "sangat menginspirasi sekali,,,,," tulis Agus Winarso, 02 April 2013, 20:48:49  


(www.kompasiana.com/agustinuswahyono/tulisan-mbeling-kawan-akrab-hendak-mencaleg-2014_5529a3766ea8340d2b552cfa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar